Barangkali karena kuper (kurang pergaulan), akhir-akhir ini saya baru mengenal berdirinya berbagai komunitas penggemar musik di Jogja. Pada 24 Februari 2009 mendatang merupakan ulang tahun pertama komunitas penggemar lagu-lagu Indonesia lama, Alamanda (Album Lagu-lagu Lama Anda), yang dibidani Subagyono. Pertengahan 2007, di”presideni” Djoko Nugroho, dideklarasikan Classic Rock Republic, yang mewadahi para penggemar musik rock. Tahun-tahun sebelumnya telah bermunculan komunitas penggemar lagu-lagu Koes Plus, The Beatles, The Rolling Stones, Slow Rock, Metal, Nasyid, Komunitas Jalur Sepi–yang mengusung musik progresive rock, penggemar Jazz, dsb, di samping munculnya berbagai grup band dengan berbagai aliran yang diwadahi dalam Forum Band Jogja yang diprakarsai Agus Raka.
Di balik kemeriahan itu, tentunya tidak lepas dari ribuan koleksi lagu, musik, dan album yang mereka punyai, wadahi, dan tampilkan. Alamanda, tentunya mempunyai koleksi lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Bing Slamet, Rita Sahara, Tetty Kadi, Erni Djohan, dsb. Classic Rock Republic, tentunya mengoleksi Procol Harum, Deep Purple, Led Zeppelin, Uriah Heep, Grand Funk Railroad, Black Sabbath, dsb. Pengusung progressive rock, tentu mengkoleksi Genesis, Yes, Pink Floyd, ELP (Emerson Lake & Palmer), King Crimson, Gentle Giant, Jethro Tull, dsb. Baik terkoleksi dalam format pita reel, piringan hitam, kaset, cd, mp3, vcd, dvd, dsb. Tersebar di beberapa tempat dan wilayah masing-masing kolektor.
Saya membayangkan, seandainya koleksi-koleksi itu bisa dikumpulkan, kemudian diformat dalam bentuk audio dan video modern (berhak cipta tentunya), disimpan di sebuah tempat (museum musik) yang representatif, disajikan kepada masyarakat melalui headpone dengan layar monitor komputer—dilengkapi pula referensi tentang band, musisi, dan lyric yang cukup—dst… alangkah manisnya. Akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat penikmat musik (selain melalui radio) mengapresiasi karya-karya musik Bacamarte (Brasil), Le Orme (Itali), Yezda Urfa (Amerika), Carptree (Swedia), Quidam (Polandia), After Crying (Hungaria), Nexus (Argentina), Ars Nova (Jepang), Ark (Norwegia), Kayak (Belanda), Tangerine Dream (Jerman), Manudibango (Afrika), IQ (Inggris) dsb. Atau memanjakan penikmat musik yang ingin sekadar bernostalgia mendengarkan Bali Agung (Eberhard Soener), Alam Raya (Abbhama), dan Nonton Bioskop (Bing Slamet) misalnya.
Melalui blog ini saya mengajak kepada teman-teman, siapa pun, apakah ia kolektor musik atau siapa pun yang memiliki beberapa koleksi musik, yang menyukai musik, dan yang peduli pada musik untuk bisa saling menjalin silaturrahim. Syukur-syukur bisa saling berbagi data koleksi yang dimiliki, sehingga, setidaknya, bisa terkumpul data koleksi yang dimiliki, dengan harapan bisa sebagai pusat informasi musik di Indonesia.
Selanjutnya kita bisa saling berdiskusi tentang musik atau museum musik itu. Bagi yang berminat bisa saling bersilaturrahim dengan kami melalui, Aulia Muhammad, Rumah Budaya dan Peradaban Mohammad Diponegoro, Timuran Mg. III/147 Yogyakarta 55153, Telp./HP. 0274 7010089, e-Mail: 4uk@rock.com. Saat ini kami baru bisa mengoleksi sekitar 1.000 band dari berbagai aliran musik progressive rock. Sepanjang Maret-Oktober 2008, beberapa di antaranya sempat kami apresiasikan lewat radio untuk masyakarat Yogyakarta khususnya.
