Category: Musik


Musikalisasi Puisi?

Ketika mengikuti diskusi “Musikalisasi Puisi” di Taman Budaya Yogyakarta, malam Muharram, beberapa tahun silam, saya sempat menyimak penampilan para musisi kampus bermain di situ. Ada beberapa nomor lagu yang dinyanyikan dengan lyric puisi dari para sastrawan terkemuka. Instrumen yang mereka gunakan pun bermacam-macam. Ada perkusi, ada biola, ada bass, ada gitar, ada keyboard, termasuk ada vokalis perempuan yang bersuara lantang.

Sang pembicara, musisi sekaligus tokoh musik Yogyakarta yang berpengalaman dan handal, membeberkan pengalamannya bermusik dan bagaimana berkarya sehingga menghasilkan musik yang baik dan dapat diterima para pendengar. Di tengah-tengah pembicaraannya, tiba-tiba sang pembicara menyebut saya dan memanggil saya untuk maju ke depan mimbar ikut berbicara bersamanya.

Karena saya merasa bukan siapa-siapa, saya perkenalkan diri saya apa adanya. Saya lupa menyebutkan, di ruang depan rumah kami terdapat 2 almari besar penuh dengan buku karya sastra dunia, di antaranya karya ayah kami (yang merupakan warisan ayah kami), serta setumpuk CD, DVD, dan kaset, lebih dari 1.500 band dengan ribuan album, koleksi yang kami kumpulkan satu demi satu (yang nantinya akan saya wariskan kepada generasi berikutnya).

Waktu itu, karena dadakan dan tidak menyiapkan apa-apa, saya bicara tanpa referensi, kecuali hasil diskusi (lebih tepatnya, ngobrol-ngobrol) bersama teman-teman, itu pun, yang masih saya ingat. Mungkin yang dimaksud dengan ”Musikalisasi Puisi” adalah mengangkat karya-karya sastra, terutama puisi, sebagai lyric lagu, bukan pembacaan puisi yang diiringi musik. Kalau ini yang dimaksud, mungkin hal ini sudah banyak dilakukan. Di Indonesia bisa disebut Bimbo, Ebiet G. Ade, Leo Kristi, Gombloh, Frankie and Jane, Iwan Fals, Guruh Gipsy, Barong’s Band, Eros Djarot, dsb. Bahkan kalau dirunut ke belakang, banyak kita jumpai gendhing-gendhing tradisional dengan lyric sastra yang adiluhung. Atau semacam yang dilakukan para leluhur dengan Geguritannya.

Pertanyaannya, apakah musik yang dihasilkannya bisa menghantarkan puisi yang dibawanya sesuai dengan maksud yang dikandung puisi tersebut? Saat itu saya mengatakan, ranah puisi ya di puisi, ranah musik ya di musik. Artinya, ketika puisi dijadikan sebagai lyric lagu, maka ia sudah lebur menjadi bagian dari musik.

Barangkali bisa kita perhatikan karya musik Genesis, ”Firth of Fifth” (yang dirilis pada 1972 di album Selling England by the Pound) dengan ”Huma di atas Bukit”-nya Taufiq Ismail yang ”dimusikalisasi” Godbless atau ”Ruthless Queen”-nya Kayak dengan ”Cintaku Tertinggal di Malaysia”-nya Dewa. Di keduanya terdapat nafas lyric yang berbeda, namun dimunculkan dengan warna musik yang ”nyaris persis” sama. Apakah yang seperti ini yang dimaksudkan dengan Musikalisasi Puisi? Lalu di mana puisinya diletakkan?

Begitu pula bila kita simak karya cipta musik yang mengangkat Nostradamus, seorang ahli nujum Prancis yang hidup di sekitar abad 14 M. Setidaknya, musikalisasinya ini pernah digarap beberapa band, di antaranya: Pendragon (1993 – Nostradamus), Solaris (1999 – Nostradamus: Book of Prophecies), Nikolo Kotzev (2001 – Nostradamus), Kayak (2005 – Nostradamus the Fate of Man), dan Judas Priest (2008 – Nostradamus). Di sini jelas, karya musik yang bersumber pada satu tema yang sama, Nostradamus, bisa dimunculkan dengan berbagai macam aransemen, komposisi, harmonisasi, ritme, dan bahkan genre yang berbeda-beda. Apakah yang seperti ini yang dimaksud dengan Musikalisasi Puisi? Lalu di mana musiknya diletakkan?

Pada kesempatan ini, saya menyampaikan maaf apabila banyak salah menyebut dan mohon masukan dari teman-teman tentang hal tersebut. Bagaimana menurut Anda? Terimakasih.

PROGRESSIVE ROCK LIBRARY

Melanjutkan gagasan yang pernah saya lontarkan (Museum Musik Jogja), pada Rabu, 21 Juli 2010 lalu, kami dirikan PROGRESSIVE ROCK LIBRARY, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan PROGRESSIVE ROCK COMMUNITY yang kami bentuk pada 16 Maret 2010. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim insya Allah PROCLIB ini mendapat ridha Allah SwT sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat peminat yang memerlukannya.

PROGRESSIVE ROCK LIBRARYUntuk sementara PROCLIB ini menempati ruang depan rumah kami di Timuran Mg. III/147 Yogyakarta 55153, Telp. 0274-386395, 0274-7010089. Dengan seperangkat komputer, player, dan sound system, para peminat bisa menikmati dan mengapresiasi koleksi musik progresif yang sempat terkoleksi dalam format mp3, cd, maupun dvd. Sampai saat ini mungkin sudah terkumpul lebih 1.500-an band rock progresif, yang eksis di tahun 70-an sampai hari ini, dengan ribuan albumnya. Selain itu, di samping mendengarkan musik, para peminat juga bisa membaca karya-karya sastra dunia di perpustakaan peninggalan ayah kami, Mohammad Diponegoro.

Insya Allah dengan perlahan tetapi pasti, berbagai koleksi yang terkumpul bisa memberikan manfaat bagi pencerdasan, pencerahan, dan perkembangan khasanah serta selera bermusik kita. Amin.

Kritik, saran, dan doa dari teman-teman semua senantiasa kami harapkan. Amin dan terimakasih.

Museum Musik Yogyakarta

Barangkali karena kuper (kurang pergaulan), akhir-akhir ini saya baru mengenal berdirinya berbagai komunitas penggemar musik di Jogja. Pada 24 Februari 2009 mendatang merupakan ulang tahun pertama komunitas penggemar lagu-lagu Indonesia lama, Alamanda (Album Lagu-lagu Lama Anda), yang dibidani Subagyono. Pertengahan 2007, di”presideni” Djoko Nugroho, dideklarasikan Classic Rock Republic, yang mewadahi para penggemar musik rock. Tahun-tahun sebelumnya telah bermunculan komunitas penggemar lagu-lagu Koes Plus, The Beatles, The Rolling Stones, Slow Rock, Metal, Nasyid, Komunitas Jalur Sepi–yang mengusung musik progresive rock, penggemar Jazz, dsb, di samping munculnya berbagai grup band dengan berbagai aliran yang diwadahi dalam Forum Band Jogja yang diprakarsai Agus Raka.

Di balik kemeriahan itu, tentunya tidak lepas dari ribuan koleksi lagu, musik, dan album yang mereka punyai, wadahi, dan tampilkan. Alamanda, tentunya mempunyai koleksi lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Bing Slamet, Rita Sahara, Tetty Kadi, Erni Djohan, dsb. Classic Rock Republic, tentunya mengoleksi Procol Harum, Deep Purple, Led Zeppelin, Uriah Heep, Grand Funk Railroad, Black Sabbath, dsb. Pengusung progressive rock, tentu mengkoleksi Genesis, Yes, Pink Floyd, ELP (Emerson Lake & Palmer), King Crimson, Gentle Giant, Jethro Tull, dsb. Baik terkoleksi dalam format pita reel, piringan hitam, kaset, cd, mp3, vcd, dvd, dsb. Tersebar di beberapa tempat dan wilayah masing-masing kolektor.

Saya membayangkan, seandainya koleksi-koleksi itu bisa dikumpulkan, kemudian diformat dalam bentuk audio dan video modern (berhak cipta tentunya), disimpan di sebuah tempat (museum musik) yang representatif, disajikan kepada masyarakat melalui headpone dengan layar monitor komputer—dilengkapi pula referensi tentang band, musisi, dan lyric yang cukup—dst… alangkah manisnya. Akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat penikmat musik (selain melalui radio) mengapresiasi karya-karya musik Bacamarte (Brasil), Le Orme (Itali), Yezda Urfa (Amerika), Carptree (Swedia), Quidam (Polandia), After Crying (Hungaria), Nexus (Argentina), Ars Nova (Jepang), Ark (Norwegia), Kayak (Belanda), Tangerine Dream (Jerman), Manudibango (Afrika), IQ (Inggris) dsb. Atau memanjakan penikmat musik yang ingin sekadar bernostalgia mendengarkan Bali Agung (Eberhard Soener), Alam Raya (Abbhama), dan Nonton Bioskop (Bing Slamet) misalnya.

Melalui blog ini saya mengajak kepada teman-teman, siapa pun, apakah ia kolektor musik atau siapa pun yang memiliki beberapa koleksi musik, yang menyukai musik, dan yang peduli pada musik untuk bisa saling menjalin silaturrahim. Syukur-syukur bisa saling berbagi data koleksi yang dimiliki, sehingga, setidaknya, bisa terkumpul data koleksi yang dimiliki, dengan harapan bisa sebagai pusat informasi musik di Indonesia.

Selanjutnya kita bisa saling berdiskusi tentang musik atau museum musik itu. Bagi yang berminat bisa saling bersilaturrahim dengan kami melalui, Aulia Muhammad, Rumah Budaya dan Peradaban Mohammad Diponegoro, Timuran Mg. III/147 Yogyakarta 55153, Telp./HP. 0274 7010089, e-Mail: 4uk@rock.com. Saat ini kami baru bisa mengoleksi sekitar 1.000 band dari berbagai aliran musik progressive rock. Sepanjang Maret-Oktober 2008, beberapa di antaranya sempat kami apresiasikan lewat radio untuk masyakarat Yogyakarta khususnya.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.